Berthier

P. JEAN BERTHIER MS
PENDIRI KONGREGASI MSF

Seratus tahun setelah paska-nya, perjalanannya ke Rumah Bapa, sejumlah 856 anak-anaknya di empat benua kini sedang meneruskan karya misinya dengan mewartakan Kabar Gembira kepada semua, “Orang yang masih jauh, yaitu sebanyak yang akan dipanggil oleh Tuhan Allah kita” (Kis 2, 39; K 2). Dengan menghayati gaya hidup Nazareth yang sederhana, menyambut Allah di pusat kehidupan, kita ingin mengatakan pada dunia: prioritas utama adalah Allah. Kita juga ingin membentangkan pesan kasih dan pengampunan Yesus di tiap aktivitas misioner kita sambil mengingatkan umat zaman ini bahwa kita dipanggil untuk membangun budaya kasih, dasar keluarga besar anak-anak Allah yang berdasarkan persaudaraan.

1. Jean Berthier, Pendiri Misionaris Keluarga Kudus

Ia lahir pada tahun 1840 di Chatonnay (Isère, Perancis), dari sebuah keluarga petani. Semenjak muda, Berthier menampakkan panggilannya. Ia pun memasuki seminari di Grenoble. Pada proses pematangan panggilannya, sebagai diakon ia menjatuhkan pilihan hidup religius pada Kongregasi La Salette, untuk melayani penyebaran pesan Bunda Maria: pertobatan dan pendekatan diri kita pada Allah.

Selanjutnya Berthier ikut mewujudkan Karya misioner “mewartakan kepada segenap umat” yang ditugaskan oleh Maria La Salette. Ia melakukannya baik di atas gunung suci itu maupun dalam misi kepada umat melalui pendampingan rohani, retret, dan karya-karya tulisnya yang sungguh rohani. Karya tulisnya ia pandang sebagai aktivitas misi yang menyebar melintasi batas-batas wilayah.

Misionaris tanpa kenal lelah ini pada akhirnya mewujudkan karya besarnya: pendirian Misionaris Keluarga Kudus. Selama menjalani karya misioner, Berthier bertemu dengan banyak anak muda yang berniat menjadi misionaris, namun berhubung adanya kendala umur (“panggilan terlambat”) dan kemiskinan, mereka tidak dapat mewujudkan cita-cita mereka. Pada waktu itu mereka yang telah berumur 14 tidak dapat lagi diterima masuk seminari karena dianggap telah melampaui batas umur. Berthier melihat bahwa mereka masih memiliki panggilan dari Allah! Di lain sisi, seruan lantang Paul Leo XIII menyadarkan Gereja akan kebutuhan para misionaris, mengingat bagian terbesar umat manusia belum pernah mendengar dan mengenal Kristus, penyelamat umat manusia.

Kardinal Langenieux, Uskup Agung Reims (sebuah kota yang terletak sekitar 150 KM timur laut Paris) menopang rencana Berthier dan membawa rencana itu kepada Sekretaris Kepausan, Kardinal Rampolla dan juga akhirnya kepada Bapa Suci yang menimbang bahwa karya ini selaras dan menjawab kebutuhan Gereja. Leo XIII meminta Langenieux supaya menjadi pelindung Karya baru ini dan menyatakan rencana ini sebagai “suatu tekat bulat yang perlu diwujudkan selekas mungkin”. Demikian Kardinal Langenieux memberikan kesaksiannya.

Setelah mengetahui adanya ketegangan antara relasi negara dan Gereja di Perancis, Berthier memulai mewujudkan karya ini di lain negara. Ia memilih Belanda. Ia datang ke suatu bekas barak militer di Grave (Belanda), di dalam Keuskupan Bois le Duc (s’Hertogenbosch). Pada tahun 1895, barak itu dijumpai Berthier dalam keadaan terlantar.

2. Seorang misionaris tanpa kenal lelah
Jean Berthier merupakan seorang anak zamannya, seorang imam yang mengarungi momentum-momentum sulit namun terus menambatkan kepercayaannya pada Allah dan berjuang untuk menemukan jalan keluar, tanpa berkeluh-kesah. Ia terbuka untuk jalan-jalan baru. Ketika masih tinggal di La Salette, ia mengawali suatu pendirian sekolah apostolik yang dalam kurun 25 tahun telah memberi ratusan imam pada Kongregasi Salettini. Ia mampu menampung potensi-potensi yang ditampakkan oleh para misionaris muda … Ia mengadaptasi metode-metode pengajaran yang cocok dengan keadaan dan kebutuhan konkrit: ia pilih orang muda, matang, sungguh berjiwa misionaris, mampu hidup mandiri dalam menjawab segala kebutuhan rohani dan jasmani di tanah misi.

Ia seorang visioner dan penuh daya pikat … mampu mendekati para muda: bersama mereka ia selalu hidup di tengah aktivitas harian, kerja tangan, pengajaran dan formasi, serta hidup rohani. Ia seorang misionaris tanpa kenal lelah yang menghadapi berbagai liku-liku hidup: seorang misionaris di tengah umat, pengkhotbah yang menaklukkan banyak hati, direktur spiritualitas, penulis untuk tiap jenis pembaca – awam maupun religius, guru, formator, dan Pendiri…

Ia paham dan peka akan kebutuhan zaman: dia gunakan sarana-sarana komunikasi untuk menyebarkan gagasan-gagasan dan rancangannya, dia ciptakan majalah populer yang menjangakau umat luas, dia menulis untuk semua sambil menawarkan orientasi, formasi dan program hidup kekudusan bagi tiap orang. Beberapa karyanya tersebar luas dan telah diterjemahkan ke pelbagai bahasa.

Seorang yang pintar, berpendirian keras, pekerja tanpa henti, abdi Tuhan dengan iman yang tak kan pernah goyah, antusias akan Injil, berbakti pada Maria; setia pada Gereja zaman itu, pada keprihatinannya dan pada kebutuhannya – itulah Berthier.

Selanjutnya… meskipun bukan orang sempurna, ia adalah seorang yang mengagumkan dalam banyak segi. Kesempurnaan merupakan suatu impian dan cita-cita sepanjang hidup. Pater Pendiri kita yang mengagumkan itu tidak juga merupakan seorang yang sempurna. Seperti semua santo-santa dan para Pendiri, kita katakan bahwa ia tidak mengatasi waktu; juga tidak tahu apakah pribadi-pribadi kiranya kudus sejak masa kecilnya. Ia melakukan apa yang ia dapat ia kerjakan. Semangat bekerja dan sikap tidak mudah puasnya melahirkan paham bahwa beristirahat merupakan suatu jeda untuk memberi kekuatan dalam beraktivitas kembali. Seperti misionaris ulung Santo Paulus, ia yakin bahwa perlulah memperoleh roti dengan bekerja dari tangan sendiri. Untuk alasan ini, ia mengembangkan kerja tangan, suatu hal yang tidak lazim bagi para imam saat itu.

Dia tetap sebagai seorang Perancis dalam hal bahasa, budaya dan kebiasaan; ia selalu meminta para penerjemah ketika bercakap-capap dengan para calon yang berbahasa Jerman maupun Belanda. Ia tidak sangat mengembangkan relasi dengan orang sekitar di Kota Grave dan tidak begitu masuk dalam lingkungan mereka.

Orang mengenangnya sebagai pribadi yang kontras dengan lingkungan: seorang misionaris, pengkhotbah, penulis, formator para misionaris, selalu seorang pribadi untuk sesamanya… namun juga hidup dan mendidik murid-muridnya dalam semangat hidup tersembunyi Nazareth supaya tak satu hal pun merebut perhatian anak-anaknya dari program didikannya.

Kita dapat bertanya apakah yang membuat suatu kebutuhan menjadi suatu keutamaan? Baik di Losche maupun di Gravi, Berhtier tidak mengurusi pembangunan dan menambah kenyamanan para siswa secara fisik. Ia memberi perhatian lebih pada panggilan (…): bila ada uang lebih, ia menganggarkannya untuk menerima murid baru dan hampir tidak pernah memperbaiki bangunan dan kelengkapannya: “Siapa yang terkejut akan keadaan kemiskinan ini berarti tidak memiliki panggilan; tidak juga Keluarga Kudus hidup dalam keadaan lebih baik dari ini”. Satu hal yang pasti – seperti dikatakan para saksi – adalah bahwa kehadiran Berthier membantu semua untuk melupakan segala ketidaknyamanan fisik.

3. Hamba Tuhan

Jean Berthier merupakan pribadi unik, anak zamannya, namun di atas segala-galanya ia adalah seorang hamba Tuhan, sosok pribadi yang berakar dalam iman .

Baginya, bersanding dekat Allah dan menggembirakanNya dalam segala hal merupakan alasan mendasar dari segala aktivitas dan segala jerih lelahnya. Selalu ia menimbang akan kehadiran Allah maka ia mengulang kembali terus menerus. Doa – demikian menurut satu dari sejumlah murid pertamanya – merupakan sumber semangat kerasulan, santapan, dan hidupnya. Ia tekun dalam berdoa. Di dalamnya, ia menimba keyakinan tebal yang menuntun pertimbangan dan tindakannya; kekuatan untuk hidup dari dan dalam kasih, pemantik untuk menyulut semua orang menuju rekonsiliasi, penggerak untuk bergembira karena kedekatan dengan Allah. Berkat doa, ia mampu mengatasi segala rintangan sepanjang jalannya dan yakin untuk tetap setia pada kehendak Allah.

P. Lombaerde, pada biografi pertama mengenai P. Berthier, mengatakan bahwa dalam doa Berthier megenal suatu sumber kebaikan hati yang memikat, sumber kelemah-lembutannya yang membuka hati banyak orang, senyum yang menaklukkan para pendosa.

Dari doa, ditimbanya pula inspirasi mengalir untuk khotbah-khotbahnya. Pada bukunya ”Imam dalam pelayanan khotbah”, Berthier menganjurkan para pengkhotbah untuk memadukan dua sikap: singkat dan jelas. Penting untuk selalu diingat: berkhotbah bukan untuk membuat orang terkejut tetapi untuk membantu umat menangkap kehadiran Allah. Berthier meyakinkan kita agar selalu berupaya untuk menggunakan bahasa yang mampu membawa pendengarnya. Yang dihitung dalam berkhotbah adalah seberapa jauh khotbah itu menggerakkan hati sehingga pendengarnya bertobat, menjauhkan diri dari dosa dan makin berkiblat pada Allah semata.

Baginya, aksi dan kontemplasi – model Marta dan Maria – merupakan satu hal terpadu dan saling menghidupi satu sama lain.

4. Seorang yang akrab

Orang sepakat untuk mengatakan bahwa Berthier merupakan seorang yang baik hati, selalu memperhatikan anak-anaknya, mampu menciptakan suasana nyaman. “Padanya, Allah menganugerahkan hati seorang bapa bagi anak-anaknya”, demikian kesaksian imam-dekan di Grave, Jan Sprangers. Percakapan dengannya mampukan orang untuk mengatasi kekurangan dan keadaan sekeliling yang amat minim.

Ia seorang asketis yang merasa cukup dengan hal-hal sederhana. Selalu berbagi hidup dengan murid-muridnya: bekerja di kamar umum sementara para siswa belajar, berdoa dan beramal selalu bersama mereka, tidur di kamar tidur besar yang hanya terpisah oleh sekat kain … Ia mengutamakan aktivitas komunitas di atas aktivitas pribadi, juga setelah genap berusia 55 tahun dan pada saat Pendirian Kongregasi. Ia amat yakin bahwa teladan terbaik yang dapat ia persembahkan saat itu adalah tinggal bersama mirid-muridnya dan berbagi segalanya dengan mereka.

Semangat membaranya demi keselamatan umat manusia tak merelakannya untuk membiarkan satu panggilanpun hilang: Gereja dan dunia menantikannya, untuk ini ia mendorong kuat-kuat mereka dalam mengatasi keadaan yang pas-pasan sepanjang hidup harian Komunitas. Hal itu ia timbang sebagai pengorbanan yang selaras.

Ia berniat memiliki “segenggam” orang-orang suci yang secara mandiri mampu berbuat banyak untuk Injil, dari pada satu kompi pasukan orang-orang kristen yang suam-suam kuku. Sungguh ia harapkan para misionaris yang terdidik baik dalam ajaran yang sehat dan memperolehnya dari sumber-sumber terbaik tradisi Gereja.

Diimpikannya para misionaris cakap serta siap untuk hidup misionaris yang penuh tantangan; dinantikannya para pribadi yang mampu melihat diri sendiri. Baginya, kerja tangan merupakan meterai yang perlu dikenakan murid-muridnya supaya selaras dengan gaya hidup Nazareth: sebagaimana Santo Yoseph berjerih-lelah, di tempat kerjanya ia bekerja sama dengan Yesus, “Sang Misionaris Bapa”…

Semangat Nazareth: inilah yang ingin ia tanamkan dalam diri para murid. Berthier sangat mengagumi Keluarga Kudus Nazareth. Dalam “Doa kepada para misionaris,” ia menghadirkan Keluarga Kudus sebagai model dari segala model, sebagai rangkuman dari segala keutamaan.
Siapapun yang meninggalkan keluarganya untuk mengambil bagian dalam ‘keluarga baru sebagai seorang religius’ harus menemukan nilai utama Nazareth ini, dengannya ia melatih diri untuk menjadi alter christi. Kongregasi yang terlahir dengan corak internasional ini harus dengan saksama menatap Rumah Nazareth sebagai model kesatuan dan saling pengertian.

Di depan mata para muridnya yang penuh semangat, ia lukiskan hidup ugahari, tersembunyi, dedikasi total, dan ketaatan Nazareth; kerja, kesatuan jiwa, kebaikan hati … Dalam suasana yang sama, tumbuh juga Yesus Kristus, ‘Misionaris Bapa.’

“Seandainya keutamaan-keutamaan Keluarga Kudus ditolak oleh orang-orang, sepatutnya keutamaan-keutamaan itu memperoleh tempat di hatimu. Berlomba-lombalah untuk mempraktikkan keutamaan itu dengan segenap hatimu lewat teladan kepada sesama,” tuturnya dalam buku Le Culte e l’imitation de la Saint Famille (314). Lanjutnya “Teladan Keluarga Kudus merupakan harta yang aku wariskan kepada kalian: harta ini tersembunyi di bawah tanah. Melalui meditasi, kamu harus menggali sampai berjumpa dengan Yesus, Maria, Yoseph; sampai akhirnya kamu temukan kekayaan tersembunyi” (ibid).

5. Berthier seorang penulis

Hidupnya sebagai seorang religius diwarnai oleh keadaan sakit. Itu merupakan tantangan untuk mewujudkan pelbagai kegiatan yang menuntut kekuatan fisik secara memadai. Suatu hari seorang konfraternya memberikan masukan sambil mengatakan: “menulislah!”. Begitulah, ia paham dan berkata pada dirinya: “aku menulis untuk berbuat segengam kebaikan dalam hidupku”.

Ia selalu yakin bahwa karya tulis-menulis merupakan bagian pokok dari tugas misionaris. Sepanjang hidupnya ia telah menulis sekitar 40 karya. Ia seorang “Katolik sejati dan produktif”, demikian dilukiskan oleh Harian La Croix.

Dalam karya-karyanya, ia amat mempertimbangkan pembentukan kepribadian para pembacanya yang meliputi para imam, religius, dan awam. Ia bermaksud menawarkan beberapa kriteria baku dan sistematis serta memberanikan semua pembacanya untuk melibatkan diri pada ziarah menuju kesucian. Bukunya yang berjudul “Buku untuk Semua” telah dicetak seratus ribu eksemplar dalam berbagai bahasa. Buku-buku lain yang berjudul “Compendium Teologi”, “Imam”, “Status religius” … telah mengangkatnya sebagai seorang penulis tersohor dan selalu setia pada ajaran Gereja.

Gaya bahasanya singkat dan jelas. Para pembaca terbantu untuk menangkap gagasan-gagasannya, sebab dalam banyak tulisannya ia menuangkan hati dan hidupnya sendiri. Ia mengembangkan karya-karyanya dengan sumber-sumber pilihan, kutipan-kutipan yang bervariasi, pelbagai anekdot sejarah dan beberapa contoh dalam kehidupan nyata. Ya. Ia tahu meruncingkan gagasan-gagasannya, menyajikannya serta menarik kesimpulan praktis.

Buku terakhirnya “Le Culte et l’Imitation de la Sainte Famille” (Berbakti dan Meneladani Keluarga Kudus) menuangkan rangkuman perjalanan rohani serta aktivitas religius-nya. Itulah testamen spiritualnya: dengan meneladan Keluarga di Nazareth – demikian tulisnya – seorang MSF akan senantiasa merawat roh misionernya serta memelihara suatu gaya hidup yang mendalam sebagi manusia dewasa dan dengan semangat kekeluargaan. Hidup kekeluargaan suatu komunitas religius MSF semestinya memberikan suatu teladan hidup juga bagi keluarga-keluarga di sekitarnya.

6. Pelbagai kesulitan sepanjang jalan

Kesehatannya yang rapuh merupakan sebongkah batu pada perjalan panggilan dalam hidup religius di Kongregasi La Salette. Hasratnya yang kokoh – sebagaimana ia yakini bahwa Allah memanggilnya pada jalan itu – pada akhirnya mengizinkannya untuk mengatasi kesulitan demi kesulitan. Itu termasuk juga yang datang dari beberapa konfraternya yang menganjurkan agar ia berhenti dari pilihan berat sebagai misionaris ini. Menimbang kesehatannya yang amat lemah, mereka memandang bahwa kesehatannya yang tidak menentu akan merupakan halangan berat bagi suatu pengabdian diri pada karya misi di atas gunung suci (pada musim semi dan panas) ataupun pada misi di tengah-tengah umat (pada musim dingin) ketika tempat ziarah ditutup karena alasan salju. Baru setelah melewati masa tiga tahun, ia diperkenankan mengucapkan kaul pertamanya.

Berthier tetap yakin bahwa inspirasi “panggilan terlambat” sebetulnya dapat diwujudkan oleh Kongregasi La Salette. Ia ingin tinggal di La Salette untuk mewujudkan inspirasi itu. Baginya sungguh merupakan duka: harus meninggalkan Kongregasinya yang tercinta demi mengawali pendirian Misionaris Keluarga Kudus. Satu hal tetap jelas: ia senantiasa mengakui diri sebagai misionaris La Salette. Dari lain sisi, ia berpikir untuk mampu mendapatkan beberapa orang untuk bekerjasama dengannya demi membaktikan diri secara total pada pendirian kongregasi itu. Namun halnya tidaklah demikian mudah. Ia mendapatkan satu kelompok kecil saja dari para kolaborator awam yang berkualitas dan penuh bakti serta beberapa imam La Salette sebagai tenaga paroh waktu. Sendirian, ia menghadapi beragam tugas dan masalah dalam Pendirian Kongregasi. Sendirian di mata orang-orang, namun ia senantiasa bersama Allah: kehadiranNya memberikan penghiburan di tengah-tengah kawasan Grave nan luas dan barak yang kurang terurus pada saat itu. Di depan kenyataan keras dan sulit ini, ia menulis “sabar dalam pencobaan, kasih pada salib, kasih pada karya, hasrat untuk berbuat baik dan menderita demi kasih pada Allah.” Itu merupakan suara yang terus bergaung dalam hari-hari hidupnya.

Bapa Pendiri pernah juga menjumpai kesulitan saat memohon ijin kepada Roma supaya diperkenankan menyimpan Sakramen Maha Kudus di Grave. Ijin belum juga diperoleh. Dengan dukungan Uskup Bois le Duc (yang membawahi Grave), kepada Propaganda Fide diajukannyalah lagi permohonan ijin untuk menyimpan Sakramen Maha Kudus. Ijin tidak kunjung tiba. Dari Roma justru datanglah tanggapan yang mengatakan bahwa pendirian Kongregasi untuk orang-orang yang lanjut usia (lewat 14 tahun) merupakan upaya percuma, kiranya lebih baik baginya untuk membaktikan jerih-lelahnya pada tujuan lebih berguna. Pada titik ini, kembali lagi Mgr. Langenieux (yang mendapat limpahan wewenang dari Bapa Suci untuk menjadi Kardinal Pelindung pendirian Kongregasi) mengambil peran dalam menghadapi kesulitan dan memberikan penjelasan memadai. Akhirnya ijinpun turun.

Demikian halnya pada kesulitan saat Pater Berthier memohon ijin pentahbisan kelompok pertama para imam baru Kongregasi: ijin ditanguhkan. Relasi dengan pihak otoritas berjalan maju-mundur dalam jalan gelap … sampai akhirnya datang uluran tangan Kardinal Langenieux yang membawa motu proprio dari Paus Pius X untuk memberikan ijin pentahbisan dua puluh imam pertama MSF, pada tahun 1905.

Kardinal Langenieux, Uskup Agung Reims! “Kepadanya kita banyak berhutang budi” – demikian tulis Bapa Pendiri kita. Lanjutnya, “Tanpa dia mustahil kalian berada di sini (…). Ia memperhatikan Karya kita sampai akhir hayatnya.” Sebagai MSF kita berhutang budi pada partisipasinya, karena ia selalu menopang P. Berthier dan karyanya.

7. Misionaris Keluarga Kudus masa kini

Jean Berthier menanamkan nilai-nilai berikut ini dalam hati anak-anaknya. Kita paparkan di sini gagasan-gagasan pokoknya.

a) Allah berada di atas segala-galanya

• Allah prioritas utama: awal dan akhir karya-karyanya. Semua bersama Allah, tak satupun tanpa Dia. Untuk alasan ini, tiada hal lebih indah dari pada membaktikan diri padaNya sepanjang hidup: “tiada yang lebih baik dari hidup religius”, yang menjamin hati tiap orang menuju kesempurnaan kasih melalui praktik nasihat injili. Tiada hal lebih baik selain mempersembahkan hidup bagiNya dan membaktikan diri pada pelayanan lebih sederhana. “Janganlah kalian melupakan bahwa hormat dan kasih satu sama lain lebih penting dari segala konstitusi dan segala aturan, dan pada akhirnya kaul-kaulpun mengakarkan tiap pribadi pada kasih akan Allah dan sesama”.

b) Kharisma misioner

• “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit”: kata-kata Injil ini senantiasa menyentuh Berthier. Gereja membutuhkan para misionaris untuk mampu “menjangkau semua yang masih jauh”, untuk menjangkau dunia yang berisiko akan keselamatannya. Berthier menginginkan para misionaris untuk menjadi yang terdepan dalam rekonsiliasi: kiranya mereka membantu umat manusia untuk berdamai dengan diri sendiri, mengingat bahwa dalam Kristus kita telah diperdamaikan karena kasih; kiranya mereka membantu umat untuk menemukan dan mempraktikkan potensi besar dalam berbuat baik demi pembangunan dunia. Sebagai misionaris MSF hendaklah kita ingat bahwa manusia dipanggil untuk hidup dalam harapan.

• Untuk berhasil mewujudkan semua ini, perlulah mempersiapkan para misionaris suci, sungguh dilatih dan mejadi cakap. Pendeknya, orang-orang yang rajin dan siap sedia memberikan diri bagi sesama. Jangan sampai orang dibiarkan kehilangan panggilan misioner. Perlulah mempersiapkan jalan dan suasan bagi mereka sehingga mampu mewujudkan panggilan mereka.

c) Keluarga Kudus

• Kehadiran P. Berthier selalu merupakan model keutamaan bagi anak-anaknya. Ia mengambil model Keluarga Kudus yang kepadanya perlu kita arahkan segenap pandangan kita. Sebagai keluarga religius kita semestinya merupakan pancaran setia dari Keluarga Nazareth. Di dalamnya, tumbuh dan berkembang Misionaris Bapa. Harmoni rumah Nazareth memberi contoh bagi semua keluarga kristiani. Di sini terletak alasan mendasar dari peran terdepan yang kita pegang untuk membidangi pastoral keluarga di zaman ini.

d) Kasih pada para miskin dan tersingkir

• P. Berthier telah meninggalkan sebuah warisan terbuka mengenai kesederhanaan pribadi dan kasih untuk hidup ugahari seperti di Nazareth. Ini merupakan pilihan mendasar untuk hidup sederhana: “Allah, anugerahkanlah kepadaku supaya aku mencintai pelayananku terutama kepada orang-orang kecil dengan berkecimpung pada orang yang terlantar dan dengan mencintai mereka yang tidak mendapatkan kasih.”

• Ia menghendaki agar tutur kata kita – sebagai misionaris sejati – mengalir dari hati dan sampai kepada semua hati; agar pesan-pesan kita mewartakan Allah dan membawa umat kepada Bapa. Untuk tujuan ini, kita seharusnya menjadi sederhana dan berlapang dada dalam menerima diri sebagai penanggap dan pelaku sabda bahagia: berbahagialah mereka yang memelihara imannya akan Allah, “padaNya, aku menaruh harapan dan mempercayakan diri pada SabdaNya”. Dalam pelayanan, kita harus siap untuk “melayani orang-orang sebagaimana Kristus jalani dan melayani saudara-saudari sebagaimana Kristus yang sama telah melakukannya”. Pelayanan ini secara khusus juga perlu ditujukan kepada orang-orang tersingkir dalam masyarakat yang serba kecukupan dan cenderung menyingkirkan mereka yang tidak mampu menggapai status sosial yang memadai. Pendeknya: ‘Kasih dengan prioritas kepada para miskin’, demikian Gereja zaman ini menyebutnya. Hal yang begitu penting adalah bertanya pada diri kita sendiri: siapakah “para miskin pada masa kini”?

Di samping pengajarannya yang cemerlang, ia meninggalkan teladan hidup pribadinya kepada kita:

• Kardinal Langenieux mengagumi kemampuan kerja P. Berthier: “Bagaimana ia dapat menulis begitu banyak karya besar, sejumlah volume yang padat, beberapa seri yang di dalamnya imam ini dapat menemukan banyak pencerahan dalam waktu yang singkat sementara berada di tengah-tengah kesulitan dan kekhawatiran? Bunda kitalah yang membuat keajaiban-keajaiban ini dalam dia dan demi dia”.

• Dalam hidupnya, P. Berthier mewujud-nyatakan apa yang telah ia tulis. Suatu saat ia menuangkan komentarnya: “Sejak dini, ketika masih di seminari, aku heran bagaimana seorang imam bisa melewatkan satu menit saja tanpa berbuat apa-apa”.

• Tulisan-tulisan tangannya menjangkau tiap tipe pembaca: para imam, religius, orang tua, ibu keluarga, para muda dan anak-anak. Perhatian dan karya pastoral kita semestinya juga terarah pada semua lapisan umur.

• Ia bekerja sama dengan para imam untuk mengembangkan karyanya. Ia sungguh memperhitungkan dan secara jernih mengulas karya luar biasa yang membawa kemajuan. Kasihlah yang menjiwai karya-karya itu.

• Lebih-lebih, ia senantiasa tinggal dekat dengan para muridnya di Loeche dan di Grave. Ia yakin bahwa contoh terbaik yang mampu ia berikan kepada mereka adalah tinggal di sisi mereka dengan berbagi suka dan duka.

Tapak-tapak kesucian:

Bertolak dari semua yang telah kita simak, dapatlah ditarik satu panorama bahwa kita sedang berada di depan seorang pribadi yang layak dipuji, di hadapan seorang kristiani tersohor dalam pelbagai keutamaan. Ya, seorang yang luar biasa dengan kasih berlimpah-limpah kepada Allah, dengan kesetiaan tebal kepada Gereja. Kita tentu membayangkan bahwa beberapa kesaksian amat menarik. Untuk menutup paparan ini, kita kumpulkan beberapa kesaksian dari tokoh yang mengenalnya dari dekat.

a) Kesaksian dari Jan Srangers, imam-dekan di Grave

Kita akan mengenang khotbah istimewa yang ia buat dalam kesempatan pemakaman P. Berthier. Ia mengungkapkan kesaksiannya sebagai pejabat Gereja yang mengenal P. Berthier baik dari luar maupun dari dalam, baik karya maupun pribadi Bapa Pendiri. Ia memuji kepribadian dan keutamaanya. Digarisbawahinya dua hal: kasih kebapakan dan kemurahan hatinya.

Ia ungkapkan bahwa Allah mengirimkan hati kebapakan untuk kebutuhan anak-anak P. Berthier saat itu. Ia mengenang beberapa hal dalam bukunya “Imamat” bahwa P. Berthier menggarisbawahi hal ini: di antara sebutan yang diterapkan pada para imam, sebutan yang paling terhormat adalah ‘bapa’. Di depan para murid Berthier, Sprangers menegaskan: “Dia mencintai kalian dengan hangat dan sepenuh hati. Tentunya kalian sungguh menangkap perhatiannya yang dilimpahkan untuk mendampingi perkembangan kalian dalam rangka mendidik dan menguduskan kamu sekalian … Kamu masing-masing kiranya mampu mengatakan suatu kelemah-lembutan yang luar biasa yang dimilikinya bagi kalian, untuk tiap-tiap orang dari kamu, dan untuk karya panggilan imamat yang telah ia rintis demi kemuliaan Allah”.

Lebih lanjut ia melanjutkan … Pater Berthier dikasihi juga oleh pelbagai pribadi dengan perhatian yang istimewa bagi dunia saat ini. Hidupnya yang transparan, keluhuran jiwanya, sifat tidak mencari keuntunga dirinya, serta sikap mengorbankan dirinya; semuanya itu memberinya penghargaan, simpati, serta pujian dari mereka yang beruntung telah berjumpa dengannya. Yang mengenalnya secara tidak langsung pun merasa beruntung. Ia sungguh dikasihi karena ia seorang yang baik di mata semua orang; menyenangkan hati karena kesahajaannya, kebaikannya, serta kesederhanaan sikapnya untuk menanggapi tiap pendapat dengan bebas.

“Meski ia memiliki aneka kemampuan, tak pernah ia menyombongkan diri. Walaupun ia merupakan pribadi yang sungguh berkualitas ia tidak menonjolkan diri. Meskipun ia beroleh begitu banyak keberhasilan dalam karya-karyanya, ia tidak ingin diagung-agungkan, justru ia menjauhkan diri dari sikap supaya dielu-elukan … Ia begitu besar di mata sesamanya dan begitu sederhana, biasa, dan sahaja di depan matanya sendiri.”

Simpati dan pujian besar dari semua orang ini merupakan ujian dan godaan yang bertubi-tubi untuk seorang beriman, sekalipun sungguh suci. Ia tidak jatuh dalam godaan supaya dipuji-puji; ia tinggal dalak kesederhanaan di hadapan Allah. Dikuatkan oleh teladannya, marilah kita ikuti jejaknya sambil berupaya menjadi ragi Kristus dan menjadi harum karena tinggal dalam Dia.

b) Kesaksian lainnya datang dari P. Marie Auguste Rivoire, seorang abbas Cartusian, yang pernah menjadi murid P. Berthier di Corps (dekat La Salette).

• “P. Berthier merupakan sekaligus seorang santo dan cendekiawan; seorang model misionaris, pekerja yang rajin, seorang pribadi yang terbakar oleh semangat kerasulan, sunguh aktif dan memiliki kekayaan hidup interior, keras namun sekaligus lunak dan penuh kasih, mampu memikat hati dan menyatukan jiwa.

• Ia seorang abdi Tuhan dan pendoa, amat berbakti kepada Maria, peka dalam bertutur-kata, terpuji, dianugerahi iman yang menyala, serta kaya akan gagasan ilahi. Ia merupakan sosok jiwa yang cekatan dengan kegigihan seperti baja, di atas rata-rata orang pada umumnya. Seorang imam pada zamannya, pengajar yang memakai metode para santo-santa yang agung, bukan seorang orator namun tetap saja seorang pengkhotbah yang memikat dan terkenal, bagaikan sinar yang mampu membakar tanpa membutakan mata, seperti cahaya yang menghangatkan tanpa menghanguskan – itulah dia!

• Rendah hati, sahaja, peka, lebih memperhatikan buah-buah jangka panjang dari pada akibat-akibat sewaktu. Pengasih para miskin, pelaku keugaharian, dan seorang pekerja. Berkarakter keras dan tegas – sebagaimana para kudus dan para pendiri kongregasi, penuh dan kaya akan keutamaan. Memadukan martabat dan kebaikan hati, kemampuan pribadi dan kesederhanaan. Sekaligus memiliki dan mengembangkan kepribadian yang unik, cocok untuk karya-karya agung begitu penting dan bertahan berabad-abad. Itulah dia!

Demikianlah sekilas gambaran Bapa Pendiri kita yang sepanjang tahun Centenario atas wafatnya hendak makin kita kenal dan rayakan. Kita memuji dan bersyukur untuk hidup dan karya-karyanya yang terwujud berkat kasih Allah dan demi Kerajaan Allah.

Roma, Agustus 2008

P. Santiago Fernandez del Campo MSF

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *