Musafir: 

Sebagai anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF), bagaimana Bapa Uskup mengartikan  pemilihan oleh Sri Paus sebagai Uskup Keuskupan Tanjung Selor sebagai Uskup pertama di  keuskupan yang baru dimekarkan dari dari keuskupan Agung Samarinda pada waktu itu?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Pemilihan alm. Bapa Suci Yohanes Paulus II atas diri saya menjadi uskup pertama Keuskupan Tanjung Selor sebagai pemekaran Keuskupan Samarinda (waktu itu) merupakan sebuah surprise (kejutan), karena saya tidak pernah membayangkan tugas sebagai uskup apalagi di daerah yang belum pernah saya masuki.  Pilihan itu, di mata saya sebagai anggota Kongregasi MSF merupakan kehormatan bagi Kongregasi, karena Bapa Suci memilih salah satu anggotanya untuk melayani umat sebagai uskup. Selain itu, sebagai pemekaran Keuskupan Samarinda (waktu itu), ternyata Keuskupan baru itu dipercayakan kepada seorang anggota MSF.

Unknown
Dialog dengan tokoh umat paroki

Musafir:

Sebagai Uskup pertama di Keuskupan yang baru, tantangan dan kesulitan pokok yang ditemui atau dihadapi sejak awal menjadi Uskup keuskupan Tanjung Selor?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Tantangan dan kesulitan yang dihadapi berhasil dilihat dan dirumuskan bersama dalam Musyawarah Pastoral pertama pada bulan Agustus 2002 yaitu kemiskinan dan perlunya terbangun persaudaraan sejati. Kemiskinan menjadi kata kunci, karena mencakup banyak segi, antara lain kemiskinan umat atas faham akan iman Katolik, kemiskinan informasi, pendidikan, ekonomi dan politik. Sebagai umat yang tediri atas banyak suku, persaudaraan sejati seturut ajaran Gereja antar kelompok umat Katolik, antar suku merupakan masalah pokok. Selain itu, persaudaraan umat dengan seasama pengikut Kristuspun menjadi tantangan tersendiri.

Mansalong Sumentobol 2004
Mansalong Sumentobol 2004

Musafir:

Selain tantangan dan kesulitan, bantuan-bantuan dan kemudahan apa saja yang Bapa Uskup alami dan terima (dari pihak mana pun) yang bermanfaat bagi tugas kegembalaan Bapa Uskup di Keuskupan Tanjung Selor?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Selain tantangan itu banyak juga kemudahan yang saya lihat dan dapat, antara lain sikap menerima dengan penuh persaudaraan dalam umat dan masyarakat di daerah itu. Persaudaraan yang telah lama menjadi salah satu semangat dalam hidup bersama di kampung-kampung merupakan modal tersendiri.

Yang tak kalah penting adalah kerja sama dengan para imam, biarawan/ti serta tokoh-tokoh awam tercipta dan berkembang dengan baik. Kemudahan lain adalah kerja sama dengan Kongregasi MSF dan beberapa Keuskupan lain telah terjalin dengan baik pula.

Hubungan dan jalinan kerja sama yang lancar dan baik dengan pemerintah daerah setempat juga menjadi salah satu modal baik untuk perkembangan Keuskupan baru itu.

Menyalami umat yang menyambut
Menyalami umat yang menyambut

Musafir:

Setelah lebih dari 10 tahun memimpin Uskup Keuskupan Tanjung Selor, apa yang menjadi harapan utama bagi perkembangan keuskupan Tanjung Selor ke depan?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Harapan utama untuk Keuskupan Tanjung Selor ke depan adalah terwujudnya Gereja yang hidup dan mengakar. Yang dimaksudkan dengan Gereja yang hidup adalah Gereja yang berdinamika, tidak pernah berhenti dan kehabisan inspirasi. Selain itu, Gereja yang hidup mampu memberi kesaksian di tengah masyarakat berwujud kontribusi berarti bagi terwujudnya bonum commune bagi seluruh warga masyarakat. Gereja yang mengakar berarti hidup dan berkembang berdasarkan Kristus sebagai batu sendi dan para rasul sebagai dasar, sehingga tetap otentik, tetapi sekaligus mengakar dalam budaya lokal. Dengan demikian nilai-nilai Kristiani  bukan unsur tempelan dalam kehidupan, melainkan jiwa dan semangat,  karena mengakar dalam budaya setempat yang telah lama dihayati.

Tarian Adat dalam Misa
Tarian Adat dalam Misa

Musafir:

Sekarang, Bapa Uskup diangkat oleh Paus sebagai Uskup Agung Keuskupan Samarinda: keuskupan yang sebelumnya menjadi “induk” keuskupan Tanjung Selor. Apakah pengangkatan ini sesuatu yang mengejutkan Bapa Uskup? Apakah Bapa Uskup sempat mengajukan keberatan  atas pemindahan ini kepada pihak Vatikan? Kalau iya, apakah boleh diceritakan keberatan-keberatan itu?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Pengangkatan itu memang cukup mengejutkan bagi saya, karena saya berharap akan diangkat uskup baru; bukan pindahan dari keuskupan lain. Kalaupun diambil dari keuskupan lain, bukan dari Tanjung Selor. Saya sempat menyampaikan keberatan khususnya karena saya merasa lahan pastoral Keuskupan Agung Samarinda itu asing bagi saya. Selain itu, tidak mudah juga meninggalkan tempat pelayanan lama yang sudah saya kenal baik dan rasanya mengrasankan. Keberatan yang tak terungkap adalah adanya rasa mapan dan masih berada dalam zone aman.

Musafir:

Akhirnya apakah yang menjadi pertimbangan Bapa Uskup untuk menerima penugasan baru sebagai Uskup Agung di Keuskupan Agung Samarinda?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Mengingat pengalaman masa lalu, khususnya penugasan dari waktu ke waktu, saya melihat bahwa tugas yang diberikan tidak pernah sesuai dengan keinginan saya. Karenanya masa-masa awal dalam setiap tugas terasa berat. Selain tidak sesuai dengan keinginan, saya juga merasa kurang siap atau disiapkan. Namun dalam perjalanan selanjutnya memberi berkat yang tak terduga baik untuk perkembangan diri dan panggilan saya, maupun  bagi yang saya layani.

Ikut menari bersama

Musafir:

Sebagai Uskup Agung KASRI, apa yang menjadi harapan Bapa Uskup bagi para Imam di KASRI dalam membantu Bapa Uskup  menggembalakan Umat di KASRI?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF: 

Harapan saya terhadap para imam dapat dirumuskan sebagai berikut. Imam adalah rohaniwan, maka mengutamakan hidup rohani bukan merupakan sesuatu yang asing melainkan keniscayaan. Tidak mungkin seorang rohaniwan tidak menghayati hidup rohani. Kedekatan dalam relasi dengan Allah inilah yang mendorong setiap imam untuk berkarya dan berelasi baik dengan sesama, baik rekan imam, biarawan-biarawati maupun umat yang dilayani. Cara hidup khusus dan karya mesti disadari bukan sebagai tugas, melainkan sebagai rahmat panggilan. Dengan demikian, selain akan dipegang teguh, akan memberi sukacita dan kebahagiaan yang mendalam.

Relasi baik dengan sesama imam dan biarawan-biarawati akan menumbuhkembangkan semangat sebagai korps (tubuh), yang saling melengkapi dan saling membantu serta ikut bertanggungjawab akan hidup dan panggilan sesama yang orang terpanggil. Kalau demikian ketika secara fisik berkeja sendiri dan jauh dari sesama imam dan rekan sepanggilanpun, tidak merasa sendirian. Kemampuan dan ketrampilan berpastoralpun perlu terus ditingkatkan.

ditandu

Musafir:

Secara khusus, dalam rangka Tahun Hidup Bakti, apa harapan utama  Bapa Uskup bagi para Imam Religius, Suster, Bruder dan Frater yang berkarya di KASRI?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF: 

Dalam rangka Tahun Hidup Bakti, mereka yang telah terpanggil mesti mengembangkan panggilan hidup yang telah dipilihnya, sehingga semakin setia dan kokoh. Makin merasakan sukacita dan kebahagiaan sebagai orang terpanggil mesti dihayati. Untuk menumbuhkan panggilan diperlukan sosialisasi lebih intensip mengenai Hidup Bakti itu. Yang tak kalah penting adalah kesaksian hidup setiap orang terpanggil yang akan menjadi daya tarik bagi orang muda dan dorongan orang tua untuk merelakan anak-anaknya menanggapi panggilan Tuhan.

Musafir:

Menyongsong Sinode Keluarga bulan Oktober 2015, apa yang menjadi himbauan dan harapan bapa Uskup bagi Kongregasi MSF yang “nota bene” menaruh perhatian khusus dalam pelayanan keluarga-keluarga Katolik?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF:

Sinode Keluarga yang akan datang hendaknya menjadi dorongan lebih bagi Kongregasi MSF untuk  menaruh perhatian lebih besar terhadap keluarga-keluarga demi tetap kokohnya lembaga keluarga, peran tepat suami-isteri dalam keluarga, orang tua terhadap anak-anaknya, peran keluarga dalam hidup menggereja dan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan usaha dan terobosan baru dalam pendampingan keluarga di tengah masyarakat seperti sekarang ini.

Musafir:

Apa pesan dan harapan untuk Kaum Muda di Keuskupan Agung Samarinda berkaitan dengan Tahun Hidup Bakti?

Mgr. Yustinus Harjosusanto MSF: 

Orang muda hendaknya membuka hati akan panggilan hidup yang dikehendaki Tuhan, karena panggilan hidup yang sesuai dengan kehendak-Nyalah yang memberi kegembiraan dan kebahagiaan. Dalam sejarah Gereja panggilan untuk Hidup Bakti, menjadi imam, biarawan-biarawati merupakan bagian penting dalam hidup dan perkembangan Gereja. Oleh karena itu, menjadi imam, biarawan atau biarawati selain merupakan panggilan Tuhan, juga merupakan  salah satu bentuk tanggungjawab bagi hidup dan berkembangnya Gereja. Maka jangan takut membuka diri bagi panggilan khusus itu. Mengenal Hidup Bakti itu perlu bagi orang muda, siapa tahu Tuhan memanggil Anda.

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *