Summer for The Y
outh

Manila-1Selama musim panas tahun ini, orang-orang muda Katolik (the youth) paroki Christ the King Caloocan-Manila mengadakan serangkaian kegiatan, baik yang bersifat rohani, sosial karitatif, maupun rekreatif-reflektif. Biasanya musim panas menjadi pilihan waktu yang tepat, karena musim ini adalah musim libur panjang sekolah dan perguruan tinggi. Kegiatan-kegiatan rohani yang dilakukan berupa rekoleksi dan latihan-latin praktis berliturgi. Kegiatan rekreatif-reflektif dilakukan berupa kemping rohani dan ziarah ke tempat-tempat suci. Sedangkan kegiatan sosial-karitatif berupa pengumpulan dana-sumbangan untuk dibagikan kepada anak-anak miskin.

Pada bulan April 2015, kaum muda berkumpul untuk mengadakan rekoleksi di Aula St. Nino Paroki Christ the King. Dalam acara ini, mereka dipandu untuk memupuk rasa bangga dan bahagia sebagai orang Katolik. Di tengah kesibukan duniawi, mereka diajak
untuk tidak mengabaikan aspek spiritual-religius agar tidak tergerus oleh kemajuan duniawi. Rekoleksi ini berjalan hikmat dan mengharukan. Sebagai tindak lanjut dari komitmen bersama dalam rekoleksi, orang-orang muda bertekad untuk terus mengadakan rekoleksi bulanan di paroki. Mereka terlibat aktif dalam liturgi paroki seperti koor, lektor, komentator, dan misdinar, bahkan ada di antara mereka yang menjadi pro-diakon. Setiap minggu mereka berkumpul untuk mengadakan latihan bagi anggota misdinar dan latihan koor untuk jadwal tugas dalam Misa.

Manila-2Kegiatan rekreatif-reflektif berupa The Youth Camp yang dilaksanakan pada tanggal 4-7 Mei 2015 di Falcon Crest Norzagaray, Bulacan. Sekitar 120 orang dan 6 imam (P. Lukas MSF, P. Vinsen MSF, P. Joseph MSF, P. Silvanus, Pr , P. Ian, dan P. Joshua [kedua nama terakhir adalah Imam Fransiskan pribumi Filipina]) terlibat dalam camping of the youth ini. P. Lukas bertugas sebagai anggota dewan juri selama The Youth Camp dalam aneka pementasan, sedangkan kelima imam yang lain terlibat di dalam dinamika kelompok bersama kaum muda. Keterlibatan para imam sebagai peserta kemping menjadi daya tarik dan dukungan yang berharga bagi anak-anak muda. Bagi mereka, hal ini (keterlibatan imam) langka di Filipina. Biasanya imam menjadi pembina, pemberi materi atau sekedar come and see. Tetapi kali ini, para imam muda menjadi peserta yang “digojlok” oleh panitia acara, orang-orang muda paroki.

Di dalam homili Misa pembukaan acara, P. Lukas mengatakan bahwa kegiatan ini luar biasa karena di hadiri oleh enam imam. Tidak ada paroki lain di Filipina ini yang bisa membawa enam imam seperti paroki Christ the King. Manila-3“Oleh karena itu, sebagai kaum muda, banggalah menjadi kaum muda Katolik karena kalian memiliki gembala-gembala yang selalu mendampingi, bahkan menjadi bagian dari perjuangan kalian,” tandasnya. Selain permainan-permainan, acara ini diisi dengan berbagai pementasan dan perlombaan. Kaum muda juga mengadakan ziarah rohani ke gua Maria dan gereja-gereja tua di sekitar Manila.

Kegiatan sosial-karitatif dilakukan dengan pengumpulan dana untuk anak-anak miskin at the mission area. Bekerjasama dengan Dewan Pastoral Paroki, kaum muda mengumpulkan dana dan membagikannya kepada anak-anak miskin berupa peralatan sekolah, alat-alat mainan, makanan, dan minuman. Kegiatan ini dilakukan selama bulan Juni dan Juli 2015. Ada dua tempat yang menjadi pusat kosentrasi distribusi, yaitu di dalam wilayah paroki dan sebuah daerah kumuh di luar area paroki. Acara pembagian hadiah ini dikemas dengan menarik oleh kaum muda, sehingga membangkitkan semangat dan harapan bagi anak-anak miskin. Sementara itu, pada tanggal 29 Juli 2015, P. Yoseph bersama dengan 4 orang muda mengikuti seminar dan latihan penanggulangan gempa bumi yang diadakan oleh keuskupan Novaliches. Dengan kegiatan ini, orang muda disadarkan dan diharapkan untuk memiliki empati dan belarasa, “Mercy and Compassion”, terhadap orang-orang di sekitarnya.Manila-8

Kita boleh berbangga, karena kaum muda di paroki ini berpartisipasi aktif dalam hidup menggereja. Dalam sebuah kesempatan, Uskup Novaliches dan beberapa imam mengapresiasi kegiatan kaum muda paroki Christ the King, Caloocan. Hampir di berbagai paroki, kegiatan kaum muda yang terorganisir dan terencana tidak terlihat jelas. Tetapi di paroki ini, kegiatan kaum muda terencana, terorganisir, dan terevaluasi.

 

STREET MASS

Lain Filipina, lain pula Indonesia. Sekalipun demikian, ada hal unik yang kurang lebih memiliki kemiripan dalam konteks yang berbeda. Kalau di Indonesia, ada agama tertentu menggunakan jalan sebagai tempat beribadah, maka di Filipina hal demikian pun terjadi. Jalanan umum dipakai sebagai tempat untuk mengadakan Misa. Para pengguna jalan “dipaksa’ untuk menghormati orang yang sedang memakai jalan sebagai tempat berdoa. Sebagian jalan raya dan atau gang kecil dipasangi larangan untuk lewat karena sedang ada Misa. Karena Misa ini diadakan di jalan, maka ia dinamakan Street Mass, misa (di) jalan (an). Berdasar konsep misa tersebut, misa lingkungan pun menjadi misa jalanan karena dilaksanakan di jalan.

Misa (di) jalan (an) ini sudah menjadi bagian dari pelayanan pastoral-sakramental di Filipina yang bertahan hampir seusia kehadiran agama katolik di negeri ini. Pada awalnya, Misa ini diperuntukkan bagi para gelandangan (tuna wisma) dan mereka yang tidak punya akses untuk datang ke gereja karena berbagai macam alasan. Sebagai negara mayoritas Katolik yang sebagian warganya hidup di bawah garis kemiskinan, tentunya hal ini menjadi masalah serius bagi warga miskin. Menanggapi situasi ini, Gereja lokal mengambil kebijakan untuk mengadakan misa jalan agar bisa menjawab kerinduan umat yang mengalami keterbatasan akses dalam hal spiritual. Maka diadakan misa (di) jalan (an) atau Street Mass.Manila-4

Seiring berjalannya waktu, kebijakan ini ditanggapi positif oleh umat sehingga Misa (di) jalan (an) terus dilakukan. Hanya saja sedikit mengalami pergeseran makna. Misa (di) jalan (an) tidak hanya ditujukan untuk orang-orang jalanan tetapi juga untuk umat di lingkungan (Ugnayan). Pastor berkesempatan untuk mengadakan misa bersama umat lingkungan di jalan. Alasan mengapa diadakan di jalan adalah supaya tidak terjadi kecemburuan sosial di antara umat. Ada umat yang memiliki rumah dengan ruangan tamu cukup luas sehingga bisa digunakan untuk Misa, sementara ada juga umat yang hanya memiliki ruangan yang sangat sempit. Agar keadilan tegak berjalan, maka Misa lingkungan tidak diadakan di dalam rumah tetapi di jalan. Umat yang hadir dalam misa (di) jalan (an) ini tidak hanya warga lingkungan, tetapi siapa saja yang “kebetulan” lewat di jalan dan ingin mengikuti misa boleh berhenti sejenak untuk mengikuti misa. (P. Joseph PM, Unio manila).

 

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *